WARGA BANTU WARGA, PEMERINTAHNYA NGAPAIN?
Seorang ibu berhadapan dengan barikade polisi di seberang UOB Plaza, Jakarta, saat
demonstrasi 28 Oktober 2026. Foto: Hariadhi/Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0.
SEORANG ibu bercerita bahwa ia dan
teman-temannya menemukan Fathimah, Wakil Ketua BEM UI, dihadang beberapa pria
ketika hendak menuju lokasi aksi 28 Oktober di Bundaran HI. Mereka awalnya
sedang mengecek logistik di sekitar UOB. Menemukan keadaan itu, mereka ikut
campur, lalu mengawal Fathimah sampai ke lokasi aksi, menembus pria-pria kekar
yang menghadang.
Saya tidak tahu kehidupan pribadi
ibu-ibu itu. Mungkin salah satunya masih ada balita yg perlu disusui, pekerjaan
kantor yg belum selesai, atau urusan rumah yang menunggu. Mereka tentu punya
alasan untuk sibuk dengan kehidupan sendiri. Tapi hari itu mereka menyediakan
waktu untuk kesulitan seseorang yg bahkan mungkin baru mereka temui. Sorry,
salah. Bukan kesulitan seseorang, melainkan kesulitan orang Indonesia.
Ada ibu-ibu lain yang “berhasil mengumpulkan”
sekitar 3 sampai 4 juta untuk konsumsi demonstran. Zaskia Adya Mecca datang
membawa ambulans, perlengkapan medis dan logistik. Windah Basudara melepas segel
bocil kematian dan sampai memakai uang pribadi untuk membayar kreator yang membantu
menyebarkan klip orasi aksi 28 Oktober.
Di Jogja beda lagi, sejak aksi
seruan boikot Raffi Ahmad dan Willie Salim karena keaktifan keduanya dalam aksi
sumpah pemuda oleh Polda yang ada orang bayaran untuk berpura-pura sebagai
mahasiswa terbongkar, sejumlah UMKM lalu membatalkan keikutsertaannya dalam
RANS Carnival. Bukan satu atau dua minggu sebelum. Tapi minus 24 jam sebelum
carnival, ketika stok dagangan sudah mereka disiapkan. Infonya, ada yang sempat
memasukkan perlengkapan malam hari, lalu membongkarnya kembali saat subuh. Ada
penjual yang sudah menyiapkan 2.000 donat. Dengan asumsi harga 5 ribu, berarti
ada potensi penjualan 10 juta yang hampir hangus. Peluang untung 10 juta
ditarik begitu saja demi solidaritas “warga bantu warga”. Memang belum tentu
seluruhnya menjadi kerugian, tetapi jelas ada pekerjaan dan modal yang telanjur
dikeluarkan.
Lalu apa yang terjadi? warga
membantu menyebarkan jualannya, mempromosikan tokonya, membeli dagangannya.
Benar-benar menarik. Luar biasa. Seseorang mengambil sikap dengan risiko yg
harus ditanggung sendiri, lalu orang lain datang membantu menanggungnya.
(Warga) Negara Gotong Royong
SAYA jadi teringat dan rasanya mulai
paham mengapa Sukarno, dalam pidato 1 Juni 1945, menjelaskan bahwa lima dasar
negara yang diusulkannya bisa diperas menjadi tiga, lalu satu: gotong royong.
Kalau melihat kejadian tadi,
pengertiannya terasa cukup dekat.
Orang-orang itu tetap punya
pekerjaan dan kebutuhan masing-masing. Tetapi ada kepentingan bersama yang membuat
mereka bersedia mengambil sebagian beban orang lain. Yang punya makanan memberi
makan. Yang punya kendaraan membantu membawa. Yg punya jangkauan akun membantu
menyebarkan suara.
Dalam kadar tertentu, mereka
sedang memperluas urusannya. Keselamatan orang lain ikut menjadi
kepentingannya. Kerugian pedagang lain ikut menjadi persoalannya. Warga bantu
warga. Gotong royong: semua untuk semua!
Trus, pemerintah ngambil bagian yang mana?
Tidak usah kita sebutkan satu-persatu
tuntutan masyarakat dalam aksi dan menagih action pemerintah atas itu. Orang
aksi-unjuk-rasanya saja malah dihalang-halangi. Istilah “mengawal aksi”, atau
“mengawal demokrasi” kok terjemahan di lapangannya malah menjadi pagar besi? Saya
lupa dari sumber yang mana, tapi ada salah satu video memperlihatkan ibu-ibu
berteriak di depan pagar besi dengan kalimat yang kira-kira naadanya ’’mengawal/
mengamankan itu berarti kalian jalan di depan, mahasiswa ikut di belakang! Bukan
(malah kalian) berhadapan dengan mahasiswa!’’
Rasanya agak susah berharap mereka
menepati janji jabatan, proses kita menagih saja mereka persulit. Aduh.
Kalau ada warga yang datang untuk
menyampaikan keluhan, maka keberhasilan pengawalan seharusnya dapat dinilai
dari apakah ia bisa menyampaikan keluhannya dengan aman. Aparatur negara harusnya
memastikan jalannya tersedia, memastikan bahwa ia mendapat pertolongan ketika
terluka, dan yang terpenting: tuntutannya sampai kepada pihak yg dituju. Bahkan
TVRI sebagai televisi milik negara harusnya meliput dan menyiarkan.
Dari pengertian ini, ibu yang
membawa roti dan orang yang menyiapkan ambulans justru sedang melakukan aksi pengawalan
yang paling benar dan konkrit. Mereka melihat kebutuhan peserta aksi, lalu
berusaha memenuhinya.
Pagar pengamanan tentu diperlukan
karena di tengah kerumunan bisa terjadi kekerasan, bisa ada orang yg sengaja
memancingnya. Nah, di konteks yang itu tameng dan pentungan semestinya bekerja:
melindungi warga, mencegah kekerasan, dan menindak pelakunya berdasarkan
perbuatannya. Masak mahasiswa Trisakti yang turun aksi sampai harus perlu membawa
ambulans sendiri dari kampus? Aduh.
Gagal Pahamnya Mereka
ADA teori yang bilang bahwa negara itu
terbentuk dari beberapa unsur: wilayah, penduduk, dan pemerintah. Nah, mungkin,
teori ini disalahpahami bahwa seolah-olah pemerintah adalah sesuatu yang
berbeda dari penduduk/ rakyat. Mereka tidak menganggap diri sebagai bagian dari
rakyat, tapi sesuatu yang mandiri di luar komunitas itu.
Perbedaan identifikasi diri perlahan
dipahami sebagai perbedaan kepentingan. Pemerintah
merasa dirinya adalah negara. Sementara rakyat, hanyalah sesuatu yang lain. Kalau
ada yang menyampaikan usul dan/ atau kritik, dianggap pihak luar yg mengganggu.
Saya rasa ini masuk akal untuk menjelaskan mengapa yang lebih
dulu disiapkan adalah pagar. Sebab yang terlihat di hadapannya bukan warga yang
perlu didengar, melainkan gangguan yang perlu dikendalikan.
[Alan Sapda. Okt. 2026]

Komentar
Posting Komentar