Langsung ke konten utama

Unggulan

ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR

SALAH satu kecelakaan berpikir paling fatal yang menimpa pemuda Indonesia hari ini adalah ketika tanggal peringatan kejadian tertentu dalam sejarah hanya dianggap sebagai momen seremonial belaka. Kita senang melihat tanggal merah, terus menikmati hari libur atau cuti bersama (upacara, seminar/diskusi, atau sebar pamflet), lalu selesai. Besoknya kehidupan kembali lagi ke mode  default . Padahal lebih dari itu; momen bersejarah diperingati agar kita kembali meresapi makna dan memantik semangat kolektif sesuai dengan momen kebangsaan apa yang telah terjadi. 21 April adalah simbol untuk meresapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, 20 Mei adalah simbol untuk memantik semangat kolektif tentang kebangkitan bangsa, dan lain sebagainya.   Ada sedikitnya dua faktor penyebab kecelakaan berpikir ini. Pertama, pemuda yang hidup pada hari ini bukanlah pemuda yang sama dengan mereka yang hidup pada saat sejarah itu terjadi. Sehingga secara internal memang tidak pernah ...

MENGAPA DALAM DEMOKRASI HARUS ADA OPOSISI?

MENGAPA (KITA BERPIKIR BAHWA) DALAM DEMOKRASI HARUS ADA OPOSISI? 

Karena kita berpikir secara dialektik. Bahwa supaya baik, segala sesuatu harus ada lawannya. Tesa harus ada antitesa-nya dulu baru bisa muncul sintesa. - meskipun kenyataannya realitas tidak harus selalu berjalan seperti itu -. Ini wajar, mengingat banyaknya catatan sejarah yang sudah membuktikan betapa kekuasaan mutlak seorang individu/ kelompok tertentu hanya menjadi alat penindasan bagi kelompok bawah. Efek traumatisnya melahirkan perlawanan-perlawanan, kesimpulan-kesimpulan seperti dalam slogan "suara rakyat suara tuhan". Meskipun, jika ingin fair mencoba melihat sisi lain, sebenarnya tidak sedikit juga contoh sebaliknya dunia yang baik ketika dipimpin secara adil oleh 1 pemimpin. Tetapi syaratnya mutlak; pemimpinnya harus manusia suci; nabi, resi, etc. 

 Apakah ini realistis? 

Di zaman hari ini, sangat sulit pasti menemukan sosok manusia suci. Tetapi tidak bisa juga dikatakan tidak ada, sebab kita belum pernah benar-benar mencari sosok itu diantara miliaran manusia di dunia. Kalaupun kita sudah rela menggunakan sebesar-besarnya pikiran, waktu, tenaga dan biaya untuk menemukan manusia suci, lalu dengan apa kita mencari? Apa kriterianya? Siapa yang berwenang untuk menilai?

Ketika upaya untuk menemukan manusia suci ternyata hampir mustahil, maka cita-cita mewujudkan -saja- kemanusiaan yang adil dan beradab terdengar lebih realistis untuk dilakukan. Tentu tidak semudah itu, tetapi menjadi mungkin untuk dilakukan oleh semua orang. Karena kata kuncinya bukan lagi “menemukan” tapi “membentuk/ mewujudkan”. Gerakannya akan paradigmatik. Dimulai dari diri sendiri. Lalu berdampak. 

Kalau kembali pada rumus demokrasi yaitu suara mayoritas, maka ketika sudah ada 51% warga negara yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, pemimpin yang terpilih juga pasti berkemanusiaan yang adil dan beradab. Lalu sisa yang 49%-nya tidak boleh dianggap/ dipandang sebagai oposisi. Mereka hanya warga negara yang punya cara berbeda dalam melihat kepemimpinan – demokrasi – pancasila. Lagipula, tidak semua yang berbeda adalah bertentangan, kan?

Karena rumus demokrasi adalah suara mayoritas, maka cara untuk mem-pancasila-kan negara demokrasi adalah dengan memasukkan pancasila dalam diri sebanyak-banyaknya warga negara. Ketika mayoritas warga negara itu berdemokrasi dengan cara pancasila, maka demokrasi yang dijalankan juga pasti demokrasi pancasila.

Alan Sapda


Komentar

Postingan Populer