Langsung ke konten utama

Unggulan

MEMANG MAU APA KITA DENGAN HARLAH PANCASILA?

Sumber gbr: ChatGPT Hal paling mendasar yang setiap orang harus ingat terkait ini adalah bahwa Pancasila itu suatu konsep abstrak yang kompleks, di dalamnya termuat pandangan dunia dan ideologi. Oleh karena Pancasila adalah suatu konsep, maka perayaan paling megah untuk memperingati kelahirannya adalah dengan memakrifati konsep-konsep itu sendiri. Maksudnya, merayakan Pancasila tidak cukup dengan sekadar diulang-ulang di lapangan upacara, tetapi harus menjadi pengetahuan yang menubuh: kesadaran yang mempengaruhi pikiran, perkataan dan perbuatan. Apakah ini berarti Pancasila sudah final dan tidak perlu diuji lagi? Jawabannya ya dan tidak. Ya, bagi mereka yang perjalanan intelektualnya sudah menyaksikan mengapa Pancasila adalah pandangan dunia dan ideologi yang tepat. Tetapi juga sekaligus tidak, karena setiap klaim kebenaran harus berani diuji terus menerus secara ilmiah untuk memvalidasi dan mempertahankan klaimnya itu. Terlebih, secara historis memang faktanya Pancasila tidak la...

MENGAPA DALAM DEMOKRASI HARUS ADA OPOSISI?

MENGAPA (KITA BERPIKIR BAHWA) DALAM DEMOKRASI HARUS ADA OPOSISI? 

Karena kita berpikir secara dialektik. Bahwa supaya baik, segala sesuatu harus ada lawannya. Tesa harus ada antitesa-nya dulu baru bisa muncul sintesa. - meskipun kenyataannya realitas tidak harus selalu berjalan seperti itu -. Ini wajar, mengingat banyaknya catatan sejarah yang sudah membuktikan betapa kekuasaan mutlak seorang individu/ kelompok tertentu hanya menjadi alat penindasan bagi kelompok bawah. Efek traumatisnya melahirkan perlawanan-perlawanan, kesimpulan-kesimpulan seperti dalam slogan "suara rakyat suara tuhan". Meskipun, jika ingin fair mencoba melihat sisi lain, sebenarnya tidak sedikit juga contoh sebaliknya dunia yang baik ketika dipimpin secara adil oleh 1 pemimpin. Tetapi syaratnya mutlak; pemimpinnya harus manusia suci; nabi, resi, etc. 

 Apakah ini realistis? 

Di zaman hari ini, sangat sulit pasti menemukan sosok manusia suci. Tetapi tidak bisa juga dikatakan tidak ada, sebab kita belum pernah benar-benar mencari sosok itu diantara miliaran manusia di dunia. Kalaupun kita sudah rela menggunakan sebesar-besarnya pikiran, waktu, tenaga dan biaya untuk menemukan manusia suci, lalu dengan apa kita mencari? Apa kriterianya? Siapa yang berwenang untuk menilai?

Ketika upaya untuk menemukan manusia suci ternyata hampir mustahil, maka cita-cita mewujudkan -saja- kemanusiaan yang adil dan beradab terdengar lebih realistis untuk dilakukan. Tentu tidak semudah itu, tetapi menjadi mungkin untuk dilakukan oleh semua orang. Karena kata kuncinya bukan lagi “menemukan” tapi “membentuk/ mewujudkan”. Gerakannya akan paradigmatik. Dimulai dari diri sendiri. Lalu berdampak. 

Kalau kembali pada rumus demokrasi yaitu suara mayoritas, maka ketika sudah ada 51% warga negara yang berkemanusiaan yang adil dan beradab, pemimpin yang terpilih juga pasti berkemanusiaan yang adil dan beradab. Lalu sisa yang 49%-nya tidak boleh dianggap/ dipandang sebagai oposisi. Mereka hanya warga negara yang punya cara berbeda dalam melihat kepemimpinan – demokrasi – pancasila. Lagipula, tidak semua yang berbeda adalah bertentangan, kan?

Karena rumus demokrasi adalah suara mayoritas, maka cara untuk mem-pancasila-kan negara demokrasi adalah dengan memasukkan pancasila dalam diri sebanyak-banyaknya warga negara. Ketika mayoritas warga negara itu berdemokrasi dengan cara pancasila, maka demokrasi yang dijalankan juga pasti demokrasi pancasila.

Alan Sapda


Komentar

Postingan Populer