Unggulan

ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR


SALAH satu kecelakaan berpikir paling fatal yang menimpa pemuda Indonesia hari ini adalah ketika tanggal peringatan kejadian tertentu dalam sejarah hanya dianggap sebagai momen seremonial belaka. Kita senang melihat tanggal merah, terus menikmati hari libur atau cuti bersama (upacara, seminar/diskusi, atau sebar pamflet), lalu selesai. Besoknya kehidupan kembali lagi ke mode default. Padahal lebih dari itu; momen bersejarah diperingati agar kita kembali meresapi makna dan memantik semangat kolektif sesuai dengan momen kebangsaan apa yang telah terjadi. 21 April adalah simbol untuk meresapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, 20 Mei adalah simbol untuk memantik semangat kolektif tentang kebangkitan bangsa, dan lain sebagainya.

 

Ada sedikitnya dua faktor penyebab kecelakaan berpikir ini. Pertama, pemuda yang hidup pada hari ini bukanlah pemuda yang sama dengan mereka yang hidup pada saat sejarah itu terjadi. Sehingga secara internal memang tidak pernah ada memori yang terekam dan oleh karena itu jelas tidak ada hubungan psikologis (emotionless) antara peristiwa sejarah itu dengan kehidupan personal kita hari ini. Kita seperti disuruh bernostalgia tentang sesuatu, tetapi sesuatu itu sama sekali tidak pernah kita alami.

 

Kedua, faktor cara kurikulum membentuk pemahaman kita tentang sejarah masih terbilang rendah. Pola pendidikan yang kita terima mengajarkan kita seolah-seolah sejarah hanya sekadar cerita masa lalu yang tidak punya korelasi dengan peristiwa yang terjadi waktu sekarang. Padahal tidak ada satupun hal di dunia yang terjadi dengan mandiri, seluruhnya adalah sistem sebab dan akibat yang utuh dan kompleks.

 

Dalam rangka Indonesia Raya, kondisi-kondisi tersebut harus dibenahi.

 

Revitalisasi pengajaran sejarah dan budaya di Indonesia harus dilakukan. Terhadap yang paling dasar, misalnya, definisi sejarah harus dikembalikan pada pengertian akar katanya “syajaratun” yang berarti pohon, yang menunjuk sebuah proses sebab akibat mulai dari akar, dahan, ranting, daun, bunga. Kalau kata Herodotus, sejarah adalah satu kajian perputaran jatuh bangunnya masyarakat dan peradaban. Jadi bukan sekadar kisah, tetapi analisa yang lebih mendalam mengenai kisah-kisah itu. Dengan memahami hal ini, diharapkan orang-orang tidak akan abai pada kejadian masa lalu, sebab mereka paham bahwa apa yang terjadi hari ini adalah rentetan akibat peristiwa masa lalu. Dengan penuh kesadaran, kita paham bahwa meskipun bukan pelaku tapi kita adalah produk sejarah, dan selanjutnya bertugas membentuk sejarah baru lagi.

[Model pemahaman di atas tentu hanya dapat dipahami dengan baik apabila telah memahami prinsip-prinsip kausalitas; sebab ~ akibat].

 

Perbaikan di atas tampak sederhana, tetapi mendasar. Hasilnya adalah pemuda yang sadar bahwa dirinya adalah salah satu sebab yang melahirkan suatu kejadian tertentu (akibat). Kesadaran ini apabila dipelihara dengan baik, pada gilirannya akan melahirkan kesadaran bahwa dirinya bertanggungjawab untuk menciptakan kejadian dan membentuk sejarah baru.[]

 

***

 

DALAM konteks Pancasila, pembicaraannya bisa lebih kompleks. Karena selain sebagai fakta sejarah (momen lahirnya), Pancasila juga harus dipahami sebagai satu sistem berpikir akademik yang utuh; epistemologis, ontologis dan tentu aksiologis.

Mungkin kita bahas di waktu depan. []

 

Alan Sapda_

 

***

 

Restu bumi leburkan hati

Sucikan dari debu dunia 

[1995; Dewa – Restoe Boemi]


 

 



Komentar

Postingan Populer