Cari Blog Ini
Blog pribadi. Berisi opini ringan dan pendek. Dengan gaya bahasa yang tentunya tidak KBBI. Tentang hukum, pemerintahan, dan apa saja yang lagi kepikiran saat itu. Sshhh..
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
SEJARAH INDONESIA IALAH SEJARAH PELEBURAN EGO
DI tahun 1906 seorang dokter kelahiran Yogyakarta melakukan perjalanan keliling Jawa berkampanye di kalangan priyayi untuk membentuk Dana Pelajar (Studiefonds), sebuah lembaga yang berfungsi membiayai pemuda-pemuda cerdas yang tidak mampu melanjutkan sekolahnya. Akhir tahun 1907, ia bertemu dengan Sutomo, salah seorang pelajar Stovia. Dari pertemuan tersebut, Sutomo kemudian menceritakan kepada para pelajar lain maksud dan tujuan sang dokter saat itu. Tahun berikutnya, tepatnya tanggal 20 Mei, sekitar pukul 9 pagi, Sutomo mengumpulkan beberapa temannya (Mangunkusumo, Suraji, dll) di salah satu ruang belajar Stovia. Sutomo menjelaskan panjang lebar gagasannya. Dia mengungkapkan bahwa masa depan tanah air ada di tangan mereka. Pertemuan sederhana pagi itu kemudian melahirkan suatu organisasi bernama Budi Utomo dengan Sutomo dan teman-temannya sebagai pendiri. Sedangkan sang dokter yang bernama Wahidin Sudorohusodo kemudian dicatat sebagai tokoh penggagas lahirnya organisasi.
Organisasi modern pertama bikinan putra tanah air tersebut tumbuh dengan cepat. Tujuan yang semula hanya fokus pada bidang pendidikan, kemudian berkembang ke bidang sosial dan budaya. Perlahan Budi Utomo kemudian bahkan mampu mengubah corak perjuangan bangsa saat itu, dari yang awalnya bersifat kedaerahan menjadi bersifat lebih luas dan menyeluruh. Perjuangan yang sebelumnya hanya terpusat pada tokoh kharismatik, menjadi lebih mengutamakan organisasi sebagai basis kekuatannya. Praktis, hal itu membangkitan gelora nasionalisme di kalangan pribumi. Hal ini dapat kita lihat dari lahirnya beberapa organisasi skala nasional lain di tanah air. Dan karenanya, tanggal 20 Mei, hari kelahiran Budi Utomo, kemudian diperingati setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Sepuluh tahun lebih beberapa hari setelahnya, sekumpulan pemuda dari berbagai asal daerah di tanah air yang terhimpun dalam Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) memprakarsai diadakannya Kongres Pemuda Kedua. Sesuai namanya, kongres ini merupakan lanjutan dari kongres sebelumnya yang dinilai masih memiliki sejumlah kekurangan, diantaranya corak kedaerahan yang masih mendominasi di kalangan sebagian pemuda.
Kongres yang dihadiri wakil berbagai organisasi kepemudaan dari hampir seluruh wilayah Indonesia (Jong Java, Jong Batak, Jong Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dsb serta pengamat dari pemuda Tionghoa) ini, membuahkan hasil berupa pernyataan sikap mereka untuk bersungguh-sungguh menggalang persatuan dan kesatuan. Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa; Indonesia.
Semangat persatuan kebangsaan ini, dengan berbagai cara kemudian dipupuk dan terus dikampanyekan sebagai senjata perjuangan di seluruh tanah air. Semangat ini yang menjaga anggota sidang BUPKI tetap berdamai dengan sengitnya perbedaan pendapat saat membahas dasar negara. Semangat ini juga berhasil mendamaikan tensi perjuangan Kaum Muda yang menggebu-gebu dengan sifat kehati-hatian dan berpikir-jangka-panjang ala Kaum Tua di Rengasdengklok sehari menjelang proklamasi kemerdekaan.
...
SEBELUM 1908, catatan sejarah mengungkapkan bahwa perjuangan di tanah air masih bersifat parsial. Namun, kelahiran Budi Utomo berhasil merubah itu. Ego organisasi yang awalnya hanya terpusat pada bagaimana menunjang biaya pendidikan kaum priyayi di Jawa, dileburkan menjadi ego masyarakat yang lebih luas, ego kebangsaan, ego kemerdekaan. Begitu juga dengan sel-sel pemuda dari berbagai daerah di Kongres Pemuda Kedua. Apa yang mereka lakukan adalah berdamai dengan kemauan orang lain. Mereka menyatukan kebutuhan mereka dengan kebutuhan orang lain. Dengan jiwa yang besar para pendiri bangsa meleburkan ego pribadi yang individualistik menuju ego masyarakat yang sifatnya lebih universal. Dari ego kelompok/ daerah menuju ego kebangsaan.
Indonesia tidak akan merdeka seandainya perdebatan mengenai dasar negara antara kaum nasionalis dan agamis pada sidang BPUPKI tidak ditutup dengan Pancasila – yang sila ketiganya berbunyi “Persatuan Indonesia - sebagai ideologi yang mampu menampung aspirasi keduanya. Atau, Indonesia mungkin saja akan bubar saat perdebatan panjang di sidang Konstituante (mengenai dasar negara) antara golongan nasionalis, agamis dan sosialis-demokratis. Dan sekali lagi, Pancasila kembali menunjukkan dirinya sebagai ideologi alternatif yang mampu menyatukan semua golongan.
Inilah sejarah bangsa kita; sejarah peleburan ego. Sejarah penerimaan perbedaan di antara rakyat-rakyatnya. Sejarah persatuan dan sejarah toleransi.
Pertanyaannya; setelah beberapa kali terbukti mampu menjaga eksistensi bangsa, dengan kompleksnya masalah Indonesia hari ini - termasuk ancaman penggantian dasar negara dengan ideologi asing, masihkah kita meragukan keampuhan semangat toleransi dan semangat persatuan?
Sungguh aneh jika kita masih meragukan Pancasila.
24 September 2018
_think
Postingan Populer
ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
PIDATO LENGKAP BUNG KARNO TENTANG DASAR NEGARA DI DALAM SIDANG BPUPKI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar