Langsung ke konten utama

Unggulan

MEMANG MAU APA KITA DENGAN HARLAH PANCASILA?

Sumber gbr: ChatGPT Hal paling mendasar yang setiap orang harus ingat terkait ini adalah bahwa Pancasila itu suatu konsep abstrak yang kompleks, di dalamnya termuat pandangan dunia dan ideologi. Oleh karena Pancasila adalah suatu konsep, maka perayaan paling megah untuk memperingati kelahirannya adalah dengan memakrifati konsep-konsep itu sendiri. Maksudnya, merayakan Pancasila tidak cukup dengan sekadar diulang-ulang di lapangan upacara, tetapi harus menjadi pengetahuan yang menubuh: kesadaran yang mempengaruhi pikiran, perkataan dan perbuatan. Apakah ini berarti Pancasila sudah final dan tidak perlu diuji lagi? Jawabannya ya dan tidak. Ya, bagi mereka yang perjalanan intelektualnya sudah menyaksikan mengapa Pancasila adalah pandangan dunia dan ideologi yang tepat. Tetapi juga sekaligus tidak, karena setiap klaim kebenaran harus berani diuji terus menerus secara ilmiah untuk memvalidasi dan mempertahankan klaimnya itu. Terlebih, secara historis memang faktanya Pancasila tidak la...

LOGIKA TOLERANSI



TIDAK ada cara paling baik untuk hidup di tengah masyarakat yang majemuk selain dengan menerima kenyataan bahwa kita, adalah satu dari beberapa unsur yang membentuk kemajemukan tersebut.

Ilustrasinya begini:

A & A  = seragam

B & B  = seragam

A & B  = beragam.

Artinya, mesti ada setidaknya 2 model yang berbeda dalam satu waktu dan satu tempat untuk bisa dikatakan “beragam”. Jika tidak, itu namanya seragam. Keberagaman itu terdefinisikan melalui unsur-unsur pembentuknya. Maka ketika si A, misalnya, menolak keberagaman (yang mana keberagaman itu terbentuk dari unsur A dan B), pada saat yang sama ia juga sedang menolak eksistensi dirinya sendiri. Perhatikan kembali ilustrasi di atas.

PERBEDAAN bukanlah hal yang dibentuk oleh lingkungan sosial seperti seorang anak yang tumbuh dewasa menjadi pembunuh karena dididik oleh seorang pembunuh, misalnya. Perbedaan adalah hal yang “given dari langit”. Karena kenyataannya, kita dilahirkan dalam suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda. Artinya, salah satu desain penciptaan manusia ialah untuk menerima hal yang berbeda dengan dirinya. Ialah untuk menjadi toleran. Maka betapa pun besarnya seseorang (dalam keadaan sadar) menolak perbedaan, tidak dapat ia pungkiri, dalam keadaan tidak sadar, ia sudah lahir dan tumbuh bersama kemajemukan itu.

Dalam banyak kajian tentang kemanusiaan, kita memahami bahwa manusia hidup dengan dua dimensinya: individu dan sosial. Di satu sisi, Ia selalu membawa identitas dan kepentingan pribadi. Sementara di sisi lain, pada saat yang sama, ia juga hidup di tengah identitas dan kepentingan pribadi lain. Ia selalu membawa identitas dan ajaran agamanya. Di waktu yang sama, pada sisi yang berbeda, ia hidup bersama manusia lain yang juga punya identitas dan ajaran agama berbeda. Nah, di sinilah sikap toleran betul-betul berperan penting. Ia (baca: toleran) adalah jembatan penghubung antara kedua sisi itu.

Seseorang merdeka untuk memeluk dan menjalankan ajaran agamanya tanpa khawatir akan diusik ataupun mengusik orang dengan keyakinan berbeda.

“Tidak ada seorangpun yang benar-benar mampu menjadi religius dan bertindak nasionalis pada saat yang sama, kecuali ia juga seorang yang plural.” 

Sederhanya saya ingin berkata seperti. Kita mengakui keMahaanNya. Kita mengakui Ia mampu menjadikan kita dalam keseragaman sebagaimana Ia mampu menjadikan kita dalam keberagaraman. Nyatanya, Ia memilih menjadikan kita dalam keberagaman.

Lalu, mengapa harus alergi terhadap perbedaan?

 

4 Desember 2019

_metanoia

 

 

Komentar

Postingan Populer