Cari Blog Ini
Blog pribadi. Berisi opini ringan dan pendek. Dengan gaya bahasa yang tentunya tidak KBBI. Tentang hukum, pemerintahan, dan apa saja yang lagi kepikiran saat itu. Sshhh..
Unggulan
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
LOGIKA TOLERANSI
TIDAK ada
cara paling baik untuk hidup di tengah masyarakat yang majemuk selain dengan
menerima kenyataan bahwa kita, adalah satu dari beberapa unsur yang membentuk kemajemukan
tersebut.
Ilustrasinya
begini:
A
& A = seragam
B
& B = seragam
A
& B = beragam.
Artinya,
mesti ada setidaknya 2 model yang berbeda dalam satu waktu dan satu tempat
untuk bisa dikatakan “beragam”. Jika tidak, itu namanya seragam. Keberagaman
itu terdefinisikan melalui unsur-unsur pembentuknya. Maka ketika si A, misalnya,
menolak keberagaman (yang mana keberagaman itu terbentuk dari unsur A dan B),
pada saat yang sama ia juga sedang menolak eksistensi dirinya sendiri.
Perhatikan kembali ilustrasi di atas.
PERBEDAAN
bukanlah hal yang dibentuk oleh lingkungan sosial seperti seorang anak yang
tumbuh dewasa menjadi pembunuh karena dididik oleh seorang pembunuh, misalnya.
Perbedaan adalah hal yang “given dari langit”. Karena kenyataannya, kita
dilahirkan dalam suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda. Artinya, salah satu
desain penciptaan manusia ialah untuk menerima hal yang berbeda dengan dirinya.
Ialah untuk menjadi toleran. Maka betapa pun besarnya seseorang (dalam keadaan
sadar) menolak perbedaan, tidak dapat ia pungkiri, dalam keadaan tidak sadar,
ia sudah lahir dan tumbuh bersama kemajemukan itu.
Dalam
banyak kajian tentang kemanusiaan, kita memahami bahwa manusia hidup dengan dua
dimensinya: individu dan sosial. Di satu sisi, Ia selalu membawa identitas dan
kepentingan pribadi. Sementara di sisi lain, pada saat yang sama, ia juga hidup
di tengah identitas dan kepentingan pribadi lain. Ia selalu membawa identitas
dan ajaran agamanya. Di waktu yang sama, pada sisi yang berbeda, ia hidup
bersama manusia lain yang juga punya identitas dan ajaran agama berbeda. Nah, di
sinilah sikap toleran betul-betul berperan penting. Ia (baca: toleran) adalah jembatan
penghubung antara kedua sisi itu.
Seseorang merdeka untuk memeluk dan menjalankan ajaran agamanya tanpa khawatir akan diusik ataupun mengusik orang dengan keyakinan berbeda.
“Tidak ada seorangpun yang benar-benar
mampu menjadi religius dan bertindak nasionalis pada saat yang sama, kecuali ia
juga seorang yang plural.”
Sederhanya
saya ingin berkata seperti. Kita mengakui keMahaanNya. Kita mengakui Ia mampu menjadikan
kita dalam keseragaman sebagaimana Ia mampu menjadikan kita dalam
keberagaraman. Nyatanya, Ia memilih menjadikan kita dalam keberagaman.
Lalu, mengapa harus alergi terhadap perbedaan?
4 Desember 2019
_metanoia
Postingan Populer
ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
PIDATO LENGKAP BUNG KARNO TENTANG DASAR NEGARA DI DALAM SIDANG BPUPKI
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya

Komentar
Posting Komentar