Langsung ke konten utama

Unggulan

ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR

SALAH satu kecelakaan berpikir paling fatal yang menimpa pemuda Indonesia hari ini adalah ketika tanggal peringatan kejadian tertentu dalam sejarah hanya dianggap sebagai momen seremonial belaka. Kita senang melihat tanggal merah, terus menikmati hari libur atau cuti bersama (upacara, seminar/diskusi, atau sebar pamflet), lalu selesai. Besoknya kehidupan kembali lagi ke mode  default . Padahal lebih dari itu; momen bersejarah diperingati agar kita kembali meresapi makna dan memantik semangat kolektif sesuai dengan momen kebangsaan apa yang telah terjadi. 21 April adalah simbol untuk meresapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, 20 Mei adalah simbol untuk memantik semangat kolektif tentang kebangkitan bangsa, dan lain sebagainya.   Ada sedikitnya dua faktor penyebab kecelakaan berpikir ini. Pertama, pemuda yang hidup pada hari ini bukanlah pemuda yang sama dengan mereka yang hidup pada saat sejarah itu terjadi. Sehingga secara internal memang tidak pernah ...

LOGIKA TOLERANSI



TIDAK ada cara paling baik untuk hidup di tengah masyarakat yang majemuk selain dengan menerima kenyataan bahwa kita, adalah satu dari beberapa unsur yang membentuk kemajemukan tersebut.

Ilustrasinya begini:

A & A  = seragam

B & B  = seragam

A & B  = beragam.

Artinya, mesti ada setidaknya 2 model yang berbeda dalam satu waktu dan satu tempat untuk bisa dikatakan “beragam”. Jika tidak, itu namanya seragam. Keberagaman itu terdefinisikan melalui unsur-unsur pembentuknya. Maka ketika si A, misalnya, menolak keberagaman (yang mana keberagaman itu terbentuk dari unsur A dan B), pada saat yang sama ia juga sedang menolak eksistensi dirinya sendiri. Perhatikan kembali ilustrasi di atas.

PERBEDAAN bukanlah hal yang dibentuk oleh lingkungan sosial seperti seorang anak yang tumbuh dewasa menjadi pembunuh karena dididik oleh seorang pembunuh, misalnya. Perbedaan adalah hal yang “given dari langit”. Karena kenyataannya, kita dilahirkan dalam suku-suku dan bangsa-bangsa yang berbeda. Artinya, salah satu desain penciptaan manusia ialah untuk menerima hal yang berbeda dengan dirinya. Ialah untuk menjadi toleran. Maka betapa pun besarnya seseorang (dalam keadaan sadar) menolak perbedaan, tidak dapat ia pungkiri, dalam keadaan tidak sadar, ia sudah lahir dan tumbuh bersama kemajemukan itu.

Dalam banyak kajian tentang kemanusiaan, kita memahami bahwa manusia hidup dengan dua dimensinya: individu dan sosial. Di satu sisi, Ia selalu membawa identitas dan kepentingan pribadi. Sementara di sisi lain, pada saat yang sama, ia juga hidup di tengah identitas dan kepentingan pribadi lain. Ia selalu membawa identitas dan ajaran agamanya. Di waktu yang sama, pada sisi yang berbeda, ia hidup bersama manusia lain yang juga punya identitas dan ajaran agama berbeda. Nah, di sinilah sikap toleran betul-betul berperan penting. Ia (baca: toleran) adalah jembatan penghubung antara kedua sisi itu.

Seseorang merdeka untuk memeluk dan menjalankan ajaran agamanya tanpa khawatir akan diusik ataupun mengusik orang dengan keyakinan berbeda.

“Tidak ada seorangpun yang benar-benar mampu menjadi religius dan bertindak nasionalis pada saat yang sama, kecuali ia juga seorang yang plural.” 

Sederhanya saya ingin berkata seperti. Kita mengakui keMahaanNya. Kita mengakui Ia mampu menjadikan kita dalam keseragaman sebagaimana Ia mampu menjadikan kita dalam keberagaraman. Nyatanya, Ia memilih menjadikan kita dalam keberagaman.

Lalu, mengapa harus alergi terhadap perbedaan?

 

4 Desember 2019

_metanoia

 

 

Komentar

Postingan Populer