Langsung ke konten utama

Unggulan

ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR

SALAH satu kecelakaan berpikir paling fatal yang menimpa pemuda Indonesia hari ini adalah ketika tanggal peringatan kejadian tertentu dalam sejarah hanya dianggap sebagai momen seremonial belaka. Kita senang melihat tanggal merah, terus menikmati hari libur atau cuti bersama (upacara, seminar/diskusi, atau sebar pamflet), lalu selesai. Besoknya kehidupan kembali lagi ke mode  default . Padahal lebih dari itu; momen bersejarah diperingati agar kita kembali meresapi makna dan memantik semangat kolektif sesuai dengan momen kebangsaan apa yang telah terjadi. 21 April adalah simbol untuk meresapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, 20 Mei adalah simbol untuk memantik semangat kolektif tentang kebangkitan bangsa, dan lain sebagainya.   Ada sedikitnya dua faktor penyebab kecelakaan berpikir ini. Pertama, pemuda yang hidup pada hari ini bukanlah pemuda yang sama dengan mereka yang hidup pada saat sejarah itu terjadi. Sehingga secara internal memang tidak pernah ...

MENGAPA PANCASILA COCOK UNTUK DUNIA?




ADA sangat banyak tafsir tentang Pancasila. Kita tidak butuh waktu dan energi yang besar untuk membuktikan itu. Ada tafsir yang religius, ada tafsir yang liberal, yang sekuler, yang komunis, yang nasionalis. Ada tafsir dari tokoh, tafsir dari ormas, ada juga tafsir dari rezim. Sebagai anak hukum, saya memilih "keseluruhan peraturan perundangan-undangan" sebagai tafsir Pancasila. UU No. 12/2011 yang bilang begitu: Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum.

Tapi mari kita kesampingkan sebentar opini biar fakta bisa diketengahkan. Kenyataannya, Pancasila sudah berhasil menjaga kita tetap satu sejak 77 tahun yg lalu.

Sudah ada beberapa cara illegal seperti pemberontakan yang berupaya mengubah dasar negara. Semuanya lewat. Setidaknya sampai saat ini. Cara legal juga sudah ada. Kata Adnan Buyung Nasution (disertasi 1995), dasar negara adalah tema perdebatan paling keras dan dinamis dibanding agenda pembahasan lainnya dalam sidang Konstituante. Sampai akhirnya setelah berkali-kali sidang, Kontituante gagal dalam tugasnya menyusun rancangan konstitusi baru. Lalu terbitlah Dekrit Presiden 5 Juli 1959 oleh Presiden Soekarno: bubarkan Konstituante dan kembali ke UUD 1945.!

Pancasila tidak terganti.

...


INDONESIA itu miniatur dunia. Menurut data sensus BPS tahun 2010, Indonesia punya 1340 suku. Memang bukan yang terbanyak, masih ada India yang punya 2000 suku.  Tapi untuk bilang bahwa Indonesia adalah keseluruhan masyarakat majemuk yang hidup sebagai kesatuan dalam wilayahnya, itu cukup. Ragam corak pemikiran mulai dari yang paling tradisional sampai yang kotemporer juga ada.

Pancasila itu memang dibikin untuk masyarakat yang majemuk. Sejak awal didesain untuk mengakomodasi hak hidup tentram bagi sangat banyak identitas. Sudah terbukti di Indonesia. 

Pancasila juga cocok untuk dunia. (Dunia juga majemuk. Ragam budaya dan pemikiran, agama, politik dan sistem sosial lainnya.)

... 

KALAU Pancasila untuk negara yang majemuk, lalu bagaimana dengan negara dunia yang tidak majemuk? Negara dunia (katakanlah: X) yang sudah mengambil budaya/sistem/agama tertentu sebagai ideologi resmi? Apakah X akan dipaksa mengubah ideologinya menjadi Pancasila? Padahal, bukankah lebih bijak untuk membiarkan X yang sudah hidup damai dengan ideologinya.  Mengapa kedamaiannya itu harus dirusak dengan memaksakan Pancasila?

Jawabannya ada di Indonesia.

Perhatikan, kita punya beberapa propinsi yang diberi hak otonomi khusus karena sejak awal pembentukan RI berhasil mempertahankan ciri khas kedaerahannya. Nah, kira-kira begitu posisi negara X ketika Pancasila diterapkan di dunia.

X sebagai individu mungkin tidak butuh Pancasila untuk dipakai secara internal. Tapi ketika bertindak sebagai anggota masyarakat dunia, X harus.

Kira-kira begitu ketika Pancasila telah diterima sebagai ideologi dunia.

...


SELAMAT ulang tahun Pancasila.

Dan "jangan sesekali melupakan sejarah!".

 

Alan Sapda / 0322

_restubumi

Komentar

Postingan Populer