Langsung ke konten utama

Unggulan

ADA YANG SALAH DENGAN CARA KITA MEMPERINGATI HARI BESAR

SALAH satu kecelakaan berpikir paling fatal yang menimpa pemuda Indonesia hari ini adalah ketika tanggal peringatan kejadian tertentu dalam sejarah hanya dianggap sebagai momen seremonial belaka. Kita senang melihat tanggal merah, terus menikmati hari libur atau cuti bersama (upacara, seminar/diskusi, atau sebar pamflet), lalu selesai. Besoknya kehidupan kembali lagi ke mode  default . Padahal lebih dari itu; momen bersejarah diperingati agar kita kembali meresapi makna dan memantik semangat kolektif sesuai dengan momen kebangsaan apa yang telah terjadi. 21 April adalah simbol untuk meresapi nilai-nilai yang diperjuangkan oleh R.A. Kartini, 20 Mei adalah simbol untuk memantik semangat kolektif tentang kebangkitan bangsa, dan lain sebagainya.   Ada sedikitnya dua faktor penyebab kecelakaan berpikir ini. Pertama, pemuda yang hidup pada hari ini bukanlah pemuda yang sama dengan mereka yang hidup pada saat sejarah itu terjadi. Sehingga secara internal memang tidak pernah ...

BAGAIMANA CARA MAKAN YANG PANCASILAIS?





 

KITA kerap membawa Pancasila dalam diskusi-diskusi “berat” mengenai falsafah negara. Kita kerap membedah Pancasila dan kemudian membandingkannya dengan ideologi lain yang hidup dan besar di dunia. Kita kemudian berebut klaim soal konsep negara apakah yang sesuai Pancasila. Bagaimanakah model ekonomi yang Pancasilais. Seperti apakah rupanya demokrasi yang paling Pancasila itu.

Tapi pernahkah kita coba melihat Pancasila sebagai benar-benar pedoman untuk segala aktivitas keseharian kita: sampai pada hal yang paling praktis.!! Sampai pada bagaimanakah cara makan yang paling Pancasilais. Salam apakah yang sesuai dengan Pancasila. Dan bla bla bla.

Mungkin pertanyaan ini akan dianggap sebagai hal remeh tameh. Tapi menurut saya, bila pembahasan Pancasila semuanya masih terlalu melangit seperti yang disebutkan di awal, maka tidak aneh jika sampai hari ini Pancasila belum benar-benar bisa membumi.

Jika Pancasila hanyalah menjadi wacananya para filsuf, jangan pernah menuntut orang yang tidak gemar diskusi dan merenung untuk bertindak Pancasila. Maka tidak ada acara lain, selain tafsir Pancasila ini harus diturunkan sampai ke tingkat yang paling praktis. Yang bisa dimengerti oleh kami-kami yang bukan filsuf ini.

Seingat saya, dulu sekira kelas 3 atau 4 SD, saya pernah mendapat nilai merah karena salah menjawab soal mengenai 45 butir-butir Pancasila. Jadi, saat itu ada 10 soal esai yang semuanya berisi satu dari 45 Butir Pengamalan Pancasila. Dan tugas murid adalah mengisi titik titik dengan menyebutkan sila yang sesuai dengan butir yang disebutkan dalam soal.

IYA, sependek pengetahuan saya, 45 Butir Pengamalan Pancasila adalah tafsir (dan penajabaran) yang mungkin paling rinci mengenai sila dalam Pancasila. Itupun, sebenarnya, masih berupa nilai-nilai universal. Untuk tahu bagaimanakah cara mandi yang Pancasilais, selanjutnya kita masih harus menafsir lagi.

Dalam Pasal 2 UU Nomor 12 Tahun 2011 (yang diubah dengan UU 15/2019) disebutkan bahwa Pancasila adalah sumber dari segala sumber hukum negara. Artinya, setiap butir pasal dan ayat dari seluruh peraturan perundang-undangan di Indonesia, sejatinya adalah tafsir dari 5 sila Pancasila. Tapi begitulah hukum negara. Ia hanya mengatur perilaku seseorang jika berhubungan atau dampaknya dengan individu lain. Untuk perbuatan pribadi semacam tidur dan belajar, hukum negara angkat tangan. Untuk ajaran moral, hukum tidak setegas itu mengaturnya. Lantas, kita harus seperti apa?

NAH, disinilah. Di tengah kekosongan akan konsep praktis Pancasila tadi, saya menemukan KMN sebagai sebuah rumah belajar Pancasila yang paling utuh.

Mengapa?

Di KMN, selain membahas mengenai dasar filosofisnya, guru kami juga mengajarkan bahwa “Pancasila ialah penerapan agama-agama dalam konteks keIndonesiaan”. AoA.

Maksudnya bagaimana?

Maksudnya adalah, jika ingin mengetahui cara makan yang Pancasilais, maka jawabannya sesuai dengan hukum dalam agama masing-masing. Begitu juga dengan ucapan salam, cara mandi, sampai pada cara gosok gigi yang Pancasilais; sesuai dengan tuntunan dalam agama masing-masing. Sebab Pancasila –sekali lagi- adalah penerapan agama-agama dalam konteks keIndonesiaan.

Seperti pada tulisan sebelumnya bahwa keberagaman itu terdefinisikan melalui unsur-unsur pembentuknya. Maka Pancasila, terdefinisikan melalui agama-agama yang hidup damai dalam konteks keIndonesiaan.


Alan Sapda / 1219

_up

Komentar

Postingan Populer